2015

2 November 2015

Tanya Jawab Seputar Produk Nasa Untuk Tanaman Sawit.


Kakak saya punya sawit umur 8 bulan. Produk NASA apa yang cocok untuk sawit yang berumur 8 bulan?
Pergunakan POC NASA dan HORMONIK (4-5 : 1 tutup per tangki) untuk penyemprotan daun 1-2 bulan sekali, dan SUPERNASA 3,5 kg/hektar per 6 bulan bisa dikocorkan atau ditaburkan bersama NPK.
 

Karena saya lihat di VCD kalau sawit bisa dipanen bila sudah berumur 3 tahun. Apakah karet juga sama..bisa disadap sebelum 7 tahun pakai produk NASA?
Prinsipnya tanaman akan berproduksi jika sudah memasuki masa produksi yang umumnya tanaman sawit 30 bulan setelah tanam, dan karet 5 tahun keatas. Penggunaan produk NASA mampu mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga lebih cepat mencapai masa dewasa dan berproduksi. Pengalaman menggunakan produk NASA untuk sawit 30 bulan bisa panen (tanpa mengalami pembuangan buah pasir) dan karet bisa tepat umur 5 tahun (karena diameter batang sudah memenuhi persyaratan).

Dosis untuk pemupukan karet dan sawit yang sudah produksi apa saja produk dari NASA yang digunakan, untuk 1 ha butuh berapa botol, untuk makronya berapa kg.
Untuk karet produksi bisa menggunakan SUPERNASA 3,5-5 kg/hektar per 4-6 bulan dan untuk sawit produksi 3,5 ? 5 kg POWERNUTRITION per 4-6 bulan sekali. Untuk makro bisa mengikuti dosis rekomendasi dinas pertanian setempat atau jika mengurangi makronya bisa 50% dari dosis rekomendasi tersebut.  

Mohon info produk NASA yang digunakan untuk kelapa sawit usia tanam 97, juga cara aplikasinya.
POWERNUTRITION 5 kg/ ha , 4-6 bulan sekali bisa ditaburkan bersama NPK (pupuk Makro) atau dikocorkan di piringan.  

Apa keistimewaan produksi sawit yang telah menggunakan produk NASA POWER NUTRITION?
Berbuah lebih kontinyu/ tidak terlalu mengalami trek buah seperti halnya tanaman sawit umumnya, ekstraksi lebih tinggi,berat janjang lebih berat, umur produksi lebih panjang, tanaman lebih cepat dewasa.
 

Berapa persen kenaikan Kelapa Sawit yang menggunakan Produk NASA?
Perlu ditekankan bahwa yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi bukan hanya produk NASA saja, namun banyak faktor lain termasuk pupuk Makro, air, genetis tanaman, hama penyakit, iklim,sejarah lahan, dll. Pengalaman berkisar antara 25% bahkan ada yang 150%.
 

Bagaimana aplikasi produk NASA jika disemprotkan pada bibit sawit dan sawit dibawah 2 tahun?
Untuk penyemprotan di pembibitan gunakan POC NASA 4-5 tutup dan HORMONIK 1 tutup per tangki merata . dan untuk tanaman TBM disemprotkan per tangki untuk 10-15 tanaman
 

Berapa pengurangan pupuk makro yang aman ? jika sudah menggunakan POWER NUTRITION 3,5 ? 5 kg per hektar per 6 bulan?
Pengurangan sebaiknya maksimal 50% dari dosis rekomendasi setempat.

30 Oktober 2015

Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Sampah Rumah Tangga

Limbah sampah rumah tangga bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Salah satunya menjadi kompos.
Seperti yang dikutip dari situs deptan.go.id, Kamis (10/4), kompos sendiri punya banyak kegunaan yakni memperbesar daya ikat tanah berpasir, menambah daya ikat air tanah, memperbaiki drainase tata udara tanah, dan mengandung hara.
Kompos adalah pupuk organik yang merupakan hasil penguraian atau dekomposisi bahan organik yang dihasilkan dari tanaman, hewan, sampah, yang dilakukan oleh mikroorganisme aktif, seperti bakteri dan jamur.
Tidak semua sampah rumah tangga bisa dibuat kompos. Hanya Sampah yang berasal dari dapur seperti kulit buah, sisa sayur, sisa buah, sisa makanan dan sampah kebun seperti dedaunan, dan rumput, yang dapat dijadikan kompos.
Tahap awal untuk membuat kompos adalah sediakan wadah untuk pengomposan. Tempat pengomposan dapat bermacam-macam, seperti lubang dalam tanah, bak, drum, baskom, dan sebagainya. Dengan syarat, wadah tersebut tidak terkena hujan secara langsung. Jika wadah yang dipergunakan berupa drum atau baskom plastik, lubangilah pada bagian dasar sebanyak lima lubang dan diletakkan di atas susunan batu bata.
Seperti apa cara mengolah limbah sampah menjadi kompos? Berikut 4 langkahnya:
Berikut langkah-langkah pembuatan kompos yaitu:


1. Pemisahan sampah

Pisahkan sampah organik dari sampah anorganik. Sampah anorganik berupa plastik, kaleng, karet. Sampah organik berupa sisa makanan, kulit buah, sisa sayuran. Sampah yang berukuran besar sebaiknya dipotong/dicacah terlebih dahulu.

2. Pencampuran
Isi wadah dengan kompos lama setinggi 1/3. Selanjutnya sampah dapur dimasukkan. Aduk bahan secara merata. Bahan bisa ditambah serbuk gergaji atau pupuk kandang dan organisme perombak limbah/ragi kompos (Tricholant). Tutup wadah dengan karung/plastik.


3. Pematangan
Aduk sampah setiap 7 hari, selama proses berlangsung suhu bahan berkisar 30-70 derajat celcius. Memasuki minggu ke-5 atau ke-6, kompos sudah jadi. Cirinya adalah tidak berbau busuk, berbau tanah, warna coklat kehitaman dan suhu 30-32 derajat celcius.


4. Pengayakan dan Pengemasan
Kompos yang sudah matang diayak untuk memperoleh hasil seragam. Lalu dikemas dalam plastik.
Agar menghasilkan pupuk kompos yang baik, beberapa fisik bahan yang dapat dilihat secara visual dan dirasakan, antara lain warna kompos coklat kehitaman, tidak berbau busuk atau menyengat, tetapi berbau tanah tanah, berbutir halus, lunak ketika dihancurkan dengan jari-jari tangan, selama dalam pengomposan, suhu bahan organik berkisar 30-70 derajat celcius, kelembaban bahan organik berkisar 40-60 derajat celcius, derajat kemasaman pH kompos berkisar antara 6,5-7,5.
Jadi, tidak susah kan memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang berguna?


Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Sampah Rumah Tangga
Image by: http://www.republika.co.id

10 Oktober 2015

Cara Mengendalikan Hama Wereng dengan Jamur Beauveria Bassiana

Cara Mengatasi Wereng - Permasalahan lapang yang dihadapi petani merupakan inspirasi program Dinas Pertanian Kab. Jombang. Sesuai kaedah pelayanan public lembaga pemerintah dimana setiap aspirasi dan keluhan masyarakat menjadi landasan pelayanan bagi masyarakat. Berbagai permasalahan yang muncul dilapang perlu kiranya menjadi skala prioritas dengan berbagai pertimbangan dalam rangka penanganannya.

Kepala Dinas Pertanian Kab. Jombang Hadi Purwantoro mengungkapkan, untuk menangani permasalahan lapang yang dinamis maka inovasi teknologi menjadi alat handal untuk mengatasi hal tersebut. Semakin tingginya tantangan pembangunan pertanian kedepan maka perlu diperhitungkan pula penanganan permasalahan dengan tepat, efektif dan efisien. Untuk itu diperlukan kajian mendalam untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang ada.

Kelompok Budaya Kerja (KBK) Si aktiv Dinas Pertanian Kab. Jombang merupakan kelompok kecil yang dibentuk dalam rangka melakukan kajian lapang secara ilmiah. Tambah Pak Bambang selaku Kabag Organisasi. Hal ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi dan mengawal pelaksanaan kebijakan para pejabat berwenang dalam mengatasi permasalahan lapang yang menjadi prioritas pemecahan.

Cara Mengendalikan Hama Wereng dengan Jamur Beauveria BassianaBerdasarkan hasil kajian lapang musim lalu, Permasalahan hama wereng ternyata masih menjadi keluhan utama petani Jombang yang harus dipecahkan. Melalui tujuh langkah dan tujuh alat analisa, KBK Si Aktiv menggunakan Jamur Beauveria bassiana untuk mengatasi permasalahan tersebut. Jamur ini merupakan musuh alami bagi hama wereng. Dalam dunia pertanian dikenal dengan istilah Agens hayati atau musuh alami. Hal ini senada dengan Visi Dinas Pertanian yang mengarahkan pembangunan pertanian secara berkelanjutan. Ungkapkan Ketua KBK Si Aktiv Rudi Priono disela sela kegiatannya. Kelestarian lingkungan menjadi salah satu pertimbangan dalam memberikan kebijakan teknis dilapang, imbuhnya.

Beauveria bassiana merupakan jamur yang mampu berkembang biak dengan menginfeksi wereng batang coklat dan beberapa hama lain. Pada kondisi lembab tetapi cukup sinar matahari menjadikan ekosistem sangat mendukung perkembangbiakan wereng. Hal ini biasanya disebabkan pada kondisi iklim yang basah di area lahan pertanian. Sebenannya hal ini bisa diminimalisir dengan jarak tanam yang lebih lebar antara 25 x 30 Cm. Selain itu kebiasaan petani untuk menggenang tanaman dengan air juga memicu tingkat serangan selain penggunaan varietas yang tidak tahan serangan wereng.

Hal inilah yang dilakukan Dinas Pertanian Kab. Jombang melalui KBK Si Aktiv untuk mengatasi permasalahan petani. Dari hasil yang dicapai ternyata mampu memikat hati Tim Juri dalam presentasi Lomba Gelar Budaya Kerja yang dilakukan oleh Biro Organisadi Provinsi Jatim di Kota Kediri Jawa Timur bulan lalu. Event ini diikuti oleh sekitar 60 Tim KBK dari SKPD lingkup Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota se Jawa Timur. Peringkat II pun bisa diraih KBK Si Aktiv dengan penghargaan yang diberikan secara langsung oleh Gubernur Jatim Pak De Karwo tanggal 18 Nopember lalu. Penerimaan penghargaan inipun di saksikan secara langsung oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan RB Yudi Crisnandi serta seluruh Bupati dan Walikota se Jatim.

Nyono Suharli selaku Bupati Jombang menambahkan, dalam pembangunan pertanian kedepan mutlak diperlukan konsep berbasis ramah lingkungan untuk menopang pertanian berkelanjutan. Ekosistem yang seimbang, dimana rantai makanan bisa berperan dengan baik akan mengurai berbagai resiko hama penyakit dalam kegiatan budidaya pertanian.

Silahkan lihat dengan seksama penjelasan tentang spora Beauveria Bassiana berikut ini:






Sumber:
http://pertanian.jombangkab.go.id/berita-dinas/program-kegiat/435-kendalikan-wereng-dengan-jamur-siaktiv-diperta-runner-up-jatim

8 Oktober 2015

Cara Pengendalian Hama Penghisap Buah Kakao

Cara Pengendalian Hama Penghisap Buah Kakao
Hama penghisap buah kakao (Helopeltis spp.) merupakan hama penting yang tingkat pengrusakannya menduduki peringkat kedua setelah hama penggerek buah kakao. Serangan hama ini dapat menurunkan produktivitas buah 50 – 60%.

Hama penghisap buah kakao berwujud kepik yang terdiri dari beberapa spesies antara lain H. antonii, H. claviver, dan H. theivora. Hama ini menyerang hampir semua tanaman kakao di Indonesia dan beberapa negara pembudidaya kakao lainnya seperti Papua, Malaysia, Filiphina,Srilanka, dan sebagian negara-negara di Afrika.


Siklus hidup
Hama penghisap buah kakao adalah serangga yang bermetamorfosis secara tidak sempurna dengan siklus hidup berlangsung selama 30 – 48 hari. Siklus hidup dimulai dari fase telur yang berlangsung selama 6 – 7 hari dilanjutkan dengan fase nimfa berlangsung selama 10 – 11 hari, dan fase imago selama 14 – 20 hari.

Telur penghisap buah kakao berbentuk lonjong, berwarna putih, dan biasanya diletakan oleh imago di dalam jaringan kulit buah atau pucuk daun. Setelah telur menetas, serangga muda (nimfa) keluar dari jaringan kulit buah dan akan mengalami 5 instar (4 kali ganti kulit) hingga akhirnya menjadi serangga dewasa (imago).

Pada fase imago inilah intensitas serangan penghisap buah kakao akan semakin tinggi, karena selain melakukan pengrusakan terhadap buah-buah kakao, imago akan kawin dan kembali meletakan telur-telur yang dihasilkannya ke dalam jaringan kulit untuk melanjutkan siklus keturunannya. Satu imago umumnya dapat memproduksi hingga 200 butir selama masa hidupnya.
 

Gejala serangan
Hama penghisap buah dapat menyerang buah kakao saat pagi dan sore hari. Karena ia tidak menyukai keberadaan cahaya, ketika siang hari hama ini biasanya bersembunyi di bagian tanaman yang gelap seperti sela-sela atau bagian daun yang menghadap ke bawah.

Hama penghisap buah dapat menyerang saat masih dalam fase nimfa dan imago. Serangan dilakukan dengan cara menusuk kulit buah muda maupun yang sudah tua menggunakan mulutnya yang menyerupai jarum. Mulutnya itu kemudian menghisap cairan manis yang ada di dalam kulit buah, lalu bersama dengan tusukan tersebut mulutnya mengeluarkan cairan racun yang dapat mematikan sel dan jaringan yang terdapat disekitar lubang tusukan.

Serangan pada buah muda menyebabkan kulit buah menjadi retak dan terjadinya pertumbuhan buah yang abnormal (malformasi). Karena pertumbuhannya abnormal, perkembangan bijipun akan terhambat dan mengakibatkan penurunan produktivitas hasil panen.Pada intensitas serangan yang tinggi, buah muda yang terserang bisa mati, mengering, dan gugur.

Serangan pada buah tua menyebabkan kulit buah dipenuh dengan bintik-bintik hitam yang merupakan luka bekas tusukan. Namun serangan pada buah tua biasanya jarang terjadi karena kulit buah sudah terlalu keras dan tidak mengandung cairan yang bisa dimakan oleh hama penghisap.

Serangan dapat pula terjadi pada pucuk daun muda. Daun muda yang terserang biasanya dalam beberapa hari langsung layu, mengering, dan akhirnya mati. Daun-daun tersebut pada akhirnya akan gugur dan ranting akan merangas kering dan akan menjadi seperti lidi.


Pengendalian penyakit
Hama penghisap buah kakao dapat dikendalikan dengan teknik pengendalian biologis, kultur teknis dan pengendalian kimiawi.
 

Pengendalian biologis
Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan inokulasi kutu putih untuk mengundang semut hitam yang merupakan musuh alami dari hama penghisap buah. Semut hitam yang beraktivitas disekitar buah-buah kakao akan membuat imago tidak sempat meletakan telur dipermukaan buah kakao. Semut hitam juga memakan telur-telur penghisap buah kakao yang terdapat dipermukaan buah.

Selain dengan inokulasi kutu putih, semut hitam juga dapat diundang dengan cara membuatkan rumah menggunakan seresah yang diikatkan pada percabangan atau jorket.

Pengedalian juga dapat dilakukan dengan melepaskan cendawan parasitoid dari hama ini yaitu berupa Beauveria bassiana. Serangga yang terinveksi biasanya akan mati setelah 2 – 5 hari disemprot. Penyemprotan pada imago umumnya lebih efektif dilakukan pada serangga dalam fase imago, dimana dosis 25-50 gram spora/ha.


Pengendalian kultur teknis

Pengendalian secara kultur teknis dilakukan dengan memangkas cabang-cabang tidak produktif yang saling bertumpang tindih. Pemangkasan bertujuan untuk mengurangi tingkat kelembaban kebun sehingga serangga penghisap buah tidak betah berlama-lama tinggal di kebun kakao kita.

Selain dengan pemangkasan, pengendalian hama penghisap buah kakao secara kultur teknis juga dapat dilakukan dengan penggunaan pohon penaung yang dapat menjadi rumah bagi semut hitam yang tak lain adalah musuh alami dari hama penghisap buah. Beberapa pohon penaung tersebut adalah kelapa, lamtoro, dan sengon.


Pengendalian kimiawi
Pengendalian secara kimiawi merupakan pilihan terakhir setelah pengendalian kultur teknis dan pengendalian biologis tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida sesuai dosis anjuran.


Sumber: http://alamtani.com/pengendalian-hama-penghisap-buah-kakao.html

Cara Menjadi Distributor NASA

Cara Menjadi Distributor NASA
DistributorPupukOrganik.Com -  Banyak sekali yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi distributor/agen dari NASA atau PT. Natural Nusantara.
Maka pada postingan kali ini saya akan berikan informasi seputar cara menjadi agen NASA.

Adapun syarat syaratnya adalah:
  1. Nama Lengkap
  2. Alamat Lengkap
  3. No.KTP
  4. No.HP yang Aktif
  5. No.Rekening untuk transfer rabat distributor
  6. Nama suami/istri (optional)
  7. Nama Ahli Waris (opional)
Biaya pendaftaran Rp.200.000,- untuk wilayah Jawa dan Rp.250.000,- untuk luar pulau Jawa.
Kenapa beda...? Karena ongkos kirimnya juga beda bos.. :D 
Apa saja yang didapatkan dengan biaya diatas...?
Anda akan mendapatkan: 
  1. Starterkit/Panduan distributor 
  2. Grenstar 1 kotak @3scht
  3. Grece Body Crystal 1 bh
  4. Sticker Nasa
  5. Vcd Company profile PT. Natural Nusantara
  6. 3bh vcd kesaksian produk(bisa pilih)
  7. FREE ONGKOS KIRIM
Selain paket pendaftaran reguler diatas, kita juga ada pendaftaran dengan sistem paket.

Paket BOSS merupakan paket pembelian produk NASA senilai Rp.2.500.000,- dan akan mendapatkan produk berkualitas tinggi produksi PT. Natural Nusantara

Paket BOSS merupakan paket pembelian produk NASA senilai Rp.2.500.000,- dan akan mendapatkan produk berkualitas tinggi produksi PT. Natural Nusantara antara lain:

  1. SUPERNASA 3 kotak @3kg
  2. GREENSTAR 10 kotak @3 Sachet
  3. POC NASA 3 botol @500cc
  4. Hormonik 3 botol @100gr
  5. SUPERNASA 3 botol @250gr
  6. POWER NUTRITION 3 botol @250gr
Paket ini bisa digunakan untuk semua komoditas pertanian dan direkomendasikan untuk anda karena potensi penghasilan anda sangat besar.

Paket Belanja
Paket belanja produk NASA senilai Rp.2.500.000,- dengan produk yang bisa dipilih sesuai dengan keputuhan dan pembelian langsung kita hitung dengan harga distributor.
Paket ini sudah FREE ongkos kirim keseluruh Indonesia kecuali Indonesia timur. 

Daun dan Biji Sirsak: Pestisida Alami Untuk Mengendalikan Wereng


Daun dan Biji Sirsak: Pestisida Alami Untuk Mengendalikan Wereng  
SeputarPadi - Serangan hama wereng pada tanaman padi akhir-akhir ini semakin meningkat. Di beberapa wilayah di Jawa seperti Banyumas, Probolinggo dan Ponorogo, hama wereng telah merusak puluhan bahkan ratusan hektar sawah petani. Produksi sawah yang tadinya 6.2 ton/ha, sekarang hanya mampu mendapai 5.4 ton/ha. Petani terancam rugi, ketersediaan pangan nasional pun terancam berkurang.
Wereng adalah sebutan umum untuk serangga penghisap cairan tumbuhan. Ukuran tubuhnya  kecil. Terdapat beberapa jenis hama wereng, beberapa diantaranya antara lain wereng hijau dan coklat. Karena hanya bisa  hidup dengan menghisap cairan tumbuhan, wereng menjadi hama penting dalam budidaya tanaman, selain sebagai pemakan langsung, wereng juga menjadi vektor bagi penularan sejumlah penyakit tumbuhan dari kelompok virus.

Wereng memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungannya. Bahkan, suatu jenis wereng mampu menghasilkan keturunan yang tahan terhadap kondisi tertentu.

Penggunaan satu jenis varietas secara terus menerus bisa menjadi salah satu faktor penyebab ledakan hama wereng. Untuk itu, pergiliran tanaman dan varietas perlu dilakukan untuk memutus rantai hidup wereng. Selain itu, penjarangan pada jarak tanam juga mampu mengurangi serangan hama wereng.

Dalam melakukan kegiatan pertanian keseimbangan ekosistem dan rantai makanan harus terjaga. Keberadaan predator alami wereng seperti laba-laba, kumbang, kepik permukaan air, dan belalan bertanduk panjang akan mampu mengendalikan polpulasi hama wereng. Untuk itu, kita perlu menjaga tempat hidup dari para predator tersebut yang biasanya hidup dalam semak dan beberapa tanaman gulma. Jika pengendalian kultur teknis serta pengendalian secara biologi tersebut tidak mampu mengatasi serangan hama, maka kita bisa melakukan pengendalian secara mekanis yaitu dengan menggunakan perangkap lampu di malam hari.

Susan Lusiana, Penanggung Jawab Pusdiklat Pertanian Berkelanjutan Serikat Petani Indonesia (SPI) menyebutkan bahwa alternatif terakhir ketika serangan hama sudah melebihi ambang batas ekonomi adalah dengan melakukan pengendalian dengan penggunaan pestisida alami.

“Pestisida alami bersifat mengurangi serangan hama, bukan untuk membunuh hama. Oleh karenanya penggunaan pestisida alami tidak akan mematikan predator alami dari hama tersebut. Cara kerjanya adalah mengusir hama dengan bau tertentu ataupun dengan menghilangkan nafsu makan hama,” ungkap Susan.

“Untuk mencegah hama wereng, bahan yang sering digunakan adalah biji mahoni atau biji atau daun sirsak.  Di dalam bahan ini terdapat repellent (penolak serangga) dan antifeedant (penghambat nafsu makan),” tambah Susan.

 

Daun dan Biji Sirsak: Pestisida Alami Untuk Mengendalikan Wereng
Berikut ini beberapa tips dari Susan mengenai pembuatan pestisida alami dari daun sirsak:
Untuk membuat pestisida alami dari daun sirsak diperlukan daun sirsak sebanyak 1 genggam, rimpang jeringau sebanyak 1 genggam, bawang putih 20 siung, sabun colek 20 gr dan air sebanyak 20 liter. Daun sirsak berfungsi sebagai penghamabat nafsu makan serangga, sedangkan jeringau dan bawang putih berfungsi untuk pengusir serangga dengan baunya yang khas. Bawang putih juga mengandung alisin yang akan membantu pertumbuhan jaringan yang rusak. Sementara itu sabun colek berfungsi sebagai perekat ketika larutan disemprotkan.

 
Cara pembuatan:
Daun sirsak, rimpang jeringau, dan bawang putih ditumbuk sampai halus, kemudian dicampur dengan sabun colek. Campuran tersebut kemudian direndam dalam air 20 liter selama dua hari. Larutan selanjutnya disaing dengan kain halus dan siap diaplikasikan. Setiap 1 liter air saringan diencerkan dalam 15 liter air, kemudian disemprotkan merata ke bagian bawah tanaman padi.
 
Cara lainnya yakni :
menggunakan biji dan daun sirsak yang sudah dicincang halus sebanyak 250 gram, dicampur dengan mikroba (efektif mikroorganisme) sebanyak 50 ml, tetes gula sebanyak 50 ml, dicampur dengan 1 liter air. Keseluruhan bahan dimasukan ke dalam drum plastik, tutup drum rapat-rapat dan simpan ke dalam ruangan yang hangat (20-35 derajat celcius) dan tidak terkena sinar matahari langsung. Aduk secara teratur dengan cara menggoyangkan ember dan tutup drum dibuka sebentar untuk membebaskan gas. Fermentasi akan mulai dan gas akan dibebaskan dalam 2-5 hari. Lalu masukkan ekstrak yang dihasilkan ke dalam botol plastik setelah disaring. Penggunaan Ekstrak dapat dilakukan dengan  disiramkan ke tanah atau tanaman secara merata dalam bentuk larutan dengan dosis 5-10 cc/liter air. Penyemprotan pada tanaman yang dilakukan setelah pertumbuhan tunas, secara kontinyu sebelum hama atau penyakit muncul, penyemprotan dilakukan sore atau pagi hari, di waktu angin tidak bertiup kencang atau setelah hujan.

Sumber: http://www.spi.or.id

4 Oktober 2015

Paket BOSS Untuk Kenaikan Hasil Panen Yang Luar Biasa

Paket BOSS Untuk Kenaikan Hasil Panen Yang Luar Biasa

Paket BOSS merupakan paket pembelian produk NASA senilai Rp.2.500.000,- dan akan mendapatkan produk berkualitas tinggi produksi PT. Natural Nusantara antara lain:
  1. SUPERNASA 3 kotak @3kg
  2. GREENSTAR 10 kotak @3 Sachet
  3. POC NASA 3 botol @500cc
  4. Hormonik 3 botol @100gr
  5. SUPERNASA 3 botol @250gr
  6. POWER NUTRITION 3 botol @250gr
Paket diatas bisa digunakan untuk semua tanaman seperti kelapa sawit, kopi, karet, padi, cabe, sayur mayur dan lain lain dengan luas sekitar 2-3hektar per paket.
Adapun kenaikan hasil panen bervariasi antara 25-200% tergantung cara aplikasi, benih tanaman, tingkat serangan hama dan faktor faktor lainnya.
Adapun cara aplikasinya nanti kita berikan VCD Testimoni beserta cara aplikasi produk beserta leflet budidayanya.
Harga diatas sudah FREE ONGKOS KIRIM ke seluruh wilayah Indonesia via POS INDONESIA atau ekspedisi yang sudah bekerja sama dengan kami.




BULAN PROMO PAKET BOSS
Setiap pembelian paket BOSS pada bulan Oktober 2015 ini, maka anda berhak mendapatkan harga distributor untuk seluruh produk PT. Natural Nusantara seperti pupuk organik, agensia hayati, pestisida organik, dll selama 2 tahun dan bisa anda perpanjang dengan biaya yang sangat murah.
Lakukan pemesanan sekarang juga untuk mendapatkan paket BOSS ini sebelum promo berakhir.

Hubungi Kami sekarang juga:

7 Mei 2015

Wereng adalah...

Wereng adalah sebutan umum untuk serangga penghisap cairan tumbuhan anggota ordo Hemiptera (kepik sejati), subordo Fulgoromorpha, khususnya yang berukuran kecil. Tonggeret pernah digolongkan sebagai wereng (di bawah subordo Auchenorrhyncha) namun sekarang telah dipisah secara taksonomi.
Wereng adalah sebutan umum untuk serangga penghisap cairan tumbuhan anggota ordo Hemiptera (kepik sejati), subordo Fulgoromorpha, khususnya yang berukuran kecil. Tonggeret pernah digolongkan sebagai wereng (di bawah subordo Auchenorrhyncha) namun sekarang telah dipisah secara taksonomi. Karena eksklusif hidup dari tumbuhan, sejumlah anggotanya menjadi hama penting dalam budidaya tanaman. Selain sebagai pemakan langsung, wereng juga menjadi vektor bagi penularan sejumlah penyakit tumbuhan penting, khususnya dari kelompok virus.

Beberapa buku masih menggunakan nama Auchenorrhyncha untuk menyebut Fulgoromorpha.


Ciri Ciri:

Nimfa dari Fulgoroida memproduksi lilin dari keenjar khusus di perut dan bagian tubuh lainnya. Lilin ini bersifat hidrofobik dari membantu menyembunyikan serangga dari pemangsa. Betina dewasa juga memproduksi lilin untuk melindungi telur.
Wereng merupakan vektor dari beberapa penyakit tumbuhan, terutama fitoplasma yang hidup di floem tumbuhan dan ditularkan oleh wereng ketika menyerap nutrisi dari batang tumbuhan.
Sejumlah anggota Fulgoroidea yang telah punah diketahui dari catatan fosil seperti Emiliana dari zaman Lutetian yang hidup di Colorado, Amerika Serikat.


Contoh wereng yang menjadi hama pertanian

Wereng hijau (Nephotettix spp.)

    Merupakan hama utama padi karena penyebar virus tungro. Virus yang menyebabkan penyakit ini yaitu Rice tungro bacilliform badnavirus (RTBV) dan Rice tungro spherical badnavirus (RTSV). Penyakit tungro dapat menyebabkan kehilangan hasil yang besar pada produksi tanaman padi.


Wereng coklat (Nilaparvata lugens)

    Wereng batang cokelat (WBC) merupakan salah satu hama penting pada pertanaman padi karena mampu menimbulkan kerusakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan secara langsung terjadi karena hama ini mempunyai kemampuan mengisap cairan tanaman yang menyebabkan daun menguning, kering dan akhirnya mati yang dikenal dengan gejala hopperburn. Kerusakan secara tidak langsung terjadi karena serangga ini merupakan vektor penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa. Wereng batang cokelat merupakan hama penting tanaman padi di Indonesia yang sejak tahun 1985 telah mengancam target swasembada beras. Faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya populasi dan serangan wereng batang cokelat dalam beberapa tahun terakhir ini adalah potensi biotik wereng batang cokelat yang tinggi, faktor abiotik dan sistem budidaya padi yang mendukung berkembangnya populasi wereng batang cokelat. Predator untuk mengendalikan wereng ini adalah Cyrtorhinus lividipennis (Hemiptera: Miridae).

Wereng punggung putih (Sogatella furcifera)
    Wereng sebagai hama sulit dikendalikan karena memiliki berbagai biotipe yang masing-masing memiliki kesukaan tersendiri terhadap kultivar yang berbeda-beda pula.

13 Maret 2015

Cara Mengatasi Pangkal Lada Yang Busuk

Cara Mengatasi Pangkal Lada Yang Busuk


Setelah Perang Dunia ke -2, Lada Indonesia termasuk penghasil lada terbesar dunia,  saat ini produksinya tersaingi oleh Vietnam yang hampir 2 kalinya. Produktivitas tanaman  yang rendah dan produksi yang rendah memicu penurunan lada ini ditambah hadirnya penyakit penyakit yang sekarang menjadi penyebab utama hamper di semua kebun lada di Indonesia . Pemahaman tentang pupuk organik di kalangan petani lada yang belum popular ditambah pola budidaya dengan teknologi organik yang masih perlu dilakukan pendampingan.

Intensitas penyakit Busuk Pangkal Batang Lada ( BPBL ) yang disebabkan jamur pathogen Phytophthora capsici  bertambah seiring dengan perubahan cuaca yang ekstrem, yang sering terjadi beberapa waktu ini. Dari hasil penelitian serangan BPBL ini berkembang  pada  lingkungan gulma yang  banyak dibanding dengan  gulma sedikit.

Pada tanaman lada dikenal dua penyakit utama yang menyebabkan layu diantaranya layu cepat dan layu lambat. Namun, justru penyakit layu cepat atau yang dikenal BPBL ini yang lebih banyak merusak tanaman lada. Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada ini disebabkan oleh jamur patogen Phytophthora capsici. Kadang, petani seringkali terkecoh dan sulit membedakan gejala antara penyakit layu lambat dengan layu cepat tersebut. Padahal identifikasi gejala ini merupakan bagian penting dalam menentukan penyakit yang menyerang tanaman lada. Dan hal ini sangat mempengaruhi bagaimana cara dan strategi pengendaliannya. Gejala layu akibat serangan patogen busuk pangkal batang biasanya nampak seperti tanaman kekeringan, sedangkan akibat penyakit kuning, ditunjukkan dengan daun menggantung kaku dan makin lama makin mengarah ke batang tanaman.

Pencegahan yang sebaiknya dilakukan adalah dengan kebersihan kebun dan pemangkasan tanaman naungan agar sinar matahari dapat masuk dan menghambat perkembangan jamur penyebab BPBL.

Pestisida organik yang ramah lingkungan dan saat ini masih yang terbaik di Indonesia adalah dengan aplikasi GLIO, untuk pencegahan pemakaian 1 kotak GLIO untuk 40 – 50 batang namun bila untuk pengobatan untuk 2- 30 batang dengan interval yang agak rapat.

Pestisida organik yang mengarah pada fungisida organik ini adalah produk andalah dari PT NATURAL NUSANTARA yang sudah mendapatkan sertifikasi nasional. Dan fungisida organik ini dapat mengatasi JAP pada karet, busuk buah pada tanaman kakao dan lainnya.

6 Februari 2015

Faktor Faktor Yang Menjadi Penyebab Munculnya Hama Wereng

Mengatasi Serangan Wereng Cokelat

Mengatasi Serangan Wereng Cokelat - Dampak pemberitaan ini telah membuka mata dan hati kita semua yang peduli terhadap nasib petani, bahkan telah mendorong Gubernur Jabar untuk menjadi “petani” yang sedang menggendong sprayer untuk menyemprot wereng cokelat dengan insektisida tanpa memakai sarung tangan dan masker pelindung (mungkin lupa atau mungkin jenis insektisida yang disemprotkan tidak berbahaya?). Pada kesempatan tersebut, Gunernur didampingi pula oleh Pak Entang Ruchiyat (Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat), Bupati Cirebon dan petugas lainnya. Aksi penyemprotan tersebut menurut istilah “PR” sebagai cara “gropyokan” yang menurut hemat saya, istilah ini kurang tepat. Mungkin akan lebih cocok dengan istilah “penyemprotan massal” sebab istilah “gropyokan” biasanya dipakai untuk mengendalikan hama tikus secara fisik dan mekanis secara langsung dengan tangan maupun menggunakan alat yang melibatkan banyak tenaga kerja (perburuan massal).

Penulis mendukung tindakan Gubernur Jawa Barat beserta aparat teknisnya yang responsif untuk segera menekan laju serangan wereng cokelat agar tidak meluas. Mari kita tunggu hasilnya. Tindakan ini pula dimaksudkan agar petani tidak trauma terhadap peningkatan serangan wereng cokelat secara mendadak (eksplosi) yang jika dibiarkan dapat mengancam produksi padi Jawa Barat khususnya di Cirebon.


Hal ini sesuai dengan Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pada penjelasan umum alinea 16 yang berbunyi, “Perlindungan tanaman merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk melindungi tanaman dari serangan organisme pengganggu tumbuh-tumbuhan. Kegiatan tersebut meliputi pencegahan masuknya, pengendalian dan eradikasi organisme pengganggu tumbuhan. Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Dalam hal terjadi eksplosi serangan organisme pengganggu tumbuhan, pemerintah bertanggung jawab untuk menanggulanginya bersama masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut kesemuanya bertujuan untuk mengamankan tanaman dari serangan organisme pengganggu tumbuhan yang tujuan akhirnya menyelamatkan produksi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Oleh karena itu masyarakat diharapkan berperan serta untuk melaporkan terjadinya serangan organisme pengganggu tumbuhan pada tanaman di wilayahnya, terutama yang sifatnya eksplosi dan sekaligus berusaha untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan tersebut. Mengingat bahwa dalam hal-hal tertentu kegiatan perlindungan tanaman menggunakan pestisida maka harus memperhatikan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup.”


Bagaimana respons para pakar perlindungan tanaman (sebagai anggota masyarakat) terhadap kemunculan kembali wereng cokelat di pesawahan petani pantai utara Jawa Barat? Tulisan ini tidak bermaksud menggurui para pakar yang sudah berpengalaman dalam mengatasi meluasnya serangan wereng cokelat, tetapi sekadar membangkitkan kepedulian untuk sama-sama memberikan masukan mengenai strategi terbaik dalam mengendalikan wereng cokelat menurut aturan pemerintah yang berlaku dan landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga di kemudian hari tidak timbul masalah yang lebih merugikan bagi petani maupun lingkungan hidup sekitar pesawahan. 


Mengapa wereng batang cokelat muncul kembali pada bulan Juli tahun ini?
Dari informasi yang dihimpun “PR”, wereng cokelat pada awal bulan Juli sudah mengganas di areal pertanian Jawa Tengah mencapai ribuan hektare seperti di Demak, Pemalang, Grobogan, Klaten, Kudus, Pati dan Jepara dengan tingkat serangan sampai ada yang puso/tidak menghasilkan dan puluhan ribu hektare terancam. Pada pertengahan bulan Juli ribuan hektare tanaman padi milik petani di Cirebon dilaporkan puso.

Organisme pengganggu tanaman (wereng dan sundep) telah menyerang sedikitnya 5.000 hektare sawah yang tersebar di wilayah Cirebon meliputi kecamatan Pabedilan, Karangsembung, Waled, Ciledug, Lemahabang, Losari, Gebang, Astanajapura dan Pangenan (Cirebon Timur). Di Cirebon Barat serangan wereng masih sebatas spot-spotyaitu di Sumber, Kedawung, Cirebon Selatan dan Plumbon (”PR” 19/07/05). Sehari kemudian “PR” melaporkan, serangan wereng sudah mencapai 8.000 hektare (”PR” 21/07/05). Makin meluasnya serangan wereng cokelat ini sangat mengkhawatirkan petani, sedangkan petani tidak mampu lagi untuk melakukan pengendalian secara madiri, maka perlu uluran tangan baik dari pemerintah (gubernur, bupati beserta aparat teknis terkait) maupun saran dan tindakan dari para pakar perlindungan tanaman untuk segera melakukan aksi nyata agar serangan wereng cokelat tidak meluas.
Untuk maksud tersebut diperlukan informasi awal yang lengkap dan sistematis. Salah satu sumber informasi adalah dari harian “PR” dengan rangkuman sebagai berikut:


Menurut Baehaki (”PR” 26/07/05), penyebab munculnya kembali serangan wereng cokelat adalah:
Faktor pertama
Terjadinya anomali musim (keganjilan) yaitu adanya hujan di musim kemarau sehingga kelembaban udara dan temperatur menjadi kondisi yang optimal untuk perkembangan populasi wereng cokelat. Wereng cokelat memiliki biological clock (mampu berkembang biak di musim hujan maupun kemarau.

Faktor kedua 
Perkembangan wereng cokelat bersifat strategis dan cepat menemukan habitat baru sebelum habitat lama “katastropi”.
Faktor ketiga
Wereng cokelat memiliki genetik plastisitas yang tinggi (mampu beradaptasi secara cepat pada varietas padi yang baru (membentuk biotipe yang lebih ganas daripada sebelumnya). Wereng cokelat juga mampu dengan cepat melemahkan kerja insektisida (resisten).
Faktor keempat 
Tingginya serangan wereng cokelat dapat dipicu oleh perilaku manusia mulai dari para petani yang salah menggunakan pestisida sehingga menimbulkan resurjensi (bertambahnya populasi lebih tinggi dari populasi awal sebelum disemprot insektisida).

Faktor kelima 
Berkurangnya peran penyuluh pertanian dan petugas pengamat hama dalam melakukan monitoring perkembangan hama di lapangan. 
Faktor keenam
Kebijakan pemerintah yang kurang mendukung upaya penelitian varietas baru tanaman padi yang lebih tahan wereng cokelat. Faktor lain, pola tanam yang tidak serempak serta banyaknya petani yang menanam varietas tidak tahan wereng cokelat (varietas kemauan sendiri seperti “Goyang dombret” , “Inul”, “Citarum”, “Galur”, “Ketan” dan lain-lain) (”PR” 22/07/05).


Seluruh faktor pemicu timbulnya kembali ledakan serangan wereng cokelat di pertanaman padi milik petani tersebut harus dijadikan pijakan untuk penyusunan strategi pengendalian wereng cokelat yang efektif dan ramah lingkungan. Untuk maksud tersebut diperlukan rangkaian pengkajian dan penelitian secara komprehensif dan terpadu dalam satu kesatuan koordinasi.


Mengapa harus belajar dari pengalaman tahun 80-90?

Seperti yang diberitakan “PR” (26/07/05), kita pada satu dasawarsa 1980-1990 telah berhasil menekan serangan wereng cokelat sehingga disebut “periode emas” karena Indonesia dinilai FAO (organisasi pangan PBB) sukses berswasembada beras. 
Mengapa waktu itu bisa berhasil? 
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kesungguhan pemerintah dan partisipasi masyarakat (dukungan para pakar, kesadaran pengusaha formulasi pestisida dan kepatuhan serta kesungguhan petani) setelah diterbitkannya Inpres No. 3 Tahun 1986. Sebagai tonggak pertama penerapan sistem pengendalian hama terpadu pada hama tanaman padi, yaitu sistem pengendalian populasi hama dengan menerapkan berbagai cara pengendalian yang serasi sehingga tidak menimbulkan kerugian ekonomi dan aman terhadap lingkungan.


Salah satu ketentuan dari Inpres No. 3 tahun 1986 tersebut adalah melarang penggunaan 57 jenis insektisida pada tanaman padi yang berspektrum lebar (tidak selektif) terutama dari insektisida golongan organofosfat setelah diketahui menimbulkan kasus resurjensi (meningkatnya populasi hama setelah aplikasi pestisida). Serta merekomendasikan jenis insektisida yang selektif dari golongan carbamat(BPMC, MIPC) dan penghambat pembentukan kitin serangga dari golongan Benzoil urea seperti buprofezin.


Penulis sempat membaca “PR” terbitan Senin 1 Agustus 2005, yang melaporkan bahwa tindakan pemberantasan wereng cokelat yang diinstruksi Gubernur Jabar belum kelihatan hasilnya bahkan serangan wereng makin meluas. Dari informasi tersebut terdapat sinyalemen penggunaan pestisida palsu yang beredar di kalangan petani. Apa betul? Apakah ini bukan diakibatkan oleh faktor lain seperti berkurangnya peran musuh alami wereng (predator, parasitoid dan patogen) karena penggunaan insektisida yang seenaknya sendiri, atau mungkin insektisida yang dianjurkan dipakai sudah tidak efektif (sudah menimbulkan gejala resistensi atau resurjensi)? 

Kemungkinan lain wereng cokelat sudah membentuk biotipe baru sebagai respons terhadap tanaman padi varietas tahan (IR 64)?

Beberapa kalimat tanya tersebut sebagai umpan balik agar masalah serangan wereng cokelat menjadi perhatian para pakar perlindungan tanaman yang masih peduli terhadap nasib petani padi.

Dari rangkaian kronologis peristiwa timbulnya kembali serangan wereng cokelat pada tahun ini, penulis menyampaikan saran kepada para penentu kebijakan di bidang perlindungan tanaman pangan yaitu: 
  1. Aktifkan kembali para petani yang telah mengikuti Sekolah Lapang PHT (SL PHT) untuk memantau perkembangan populasi wereng cokelat berikut keberadaan musuh alaminya (predator, parasitoid dan patogen hama) pada areal tanaman padi yang masuk ke dalam tanggung jawab kelompoknya di bawah bimbingan petugas pengamat hama/PPL. 
  2. Klasifikasikan areal tanaman padi yang terserang wereng cokelat ke dalam kriteria serangan berat (puso), agak berat, sedang, ringan dan tidak terserang, yang dilengkapi dengan informasi penerapan teknik budi daya (varietas padi, pemupukan, aplikasi pestisida jenis dan dosis, penyiangan, pengairan) hama lain dan penyakit. Jika menemukan serangan berat lengkapi dengan informasi varietas yang ditanam. 
  3. Lakukan pelarangan peredaran jerami padi dari daerah serangan ke daerah yang belum terserang.
  4. Lakukan evaluasi terhadap pestisida yang digunakan (jenis, dosis, cara dan waktu aplikasi, interval penyemprotan, dicampur, tidak dicampur, efektivitas).
  5.  Lakukan seleksi terhadap jenis pestisida yang dipakai (masih efektif, kurang efektif, tidak efektif).
  6. Gunakan insektisida yang masih efektif menurut ambang ekonomi hama dengan memperhatikan teknik aplikasi yang benar agar dampak negatif sewaktu aplikasi dapat diperkecil. 
  7. Tindak lanjuti dengan penelitian jika pada varietas IR 64 terserang berat wereng cokelat.
  8. Sosialisasikan kepada para petani dan petugas peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang perlindungan tanaman berikut ketentuan tindak pidananya. 
  9. Terapkan sistem pengendalian hama terpadu untuk musim tanam yang akan datang (Pemanfaatan pengendalian alami setempat; Pengelolaan ekosistem persawahan dengan cara bercocok tanam seperti penggunaan varietas tahan; pergiliran tanaman/varietas; sanitasi lingkungan; Mengatur masa tanam; aspek bercocok tanam lainnya; Penerapan pengendalian nonkimiawi dan penggunaan pestisida secara bijaksana (selektif fisiologis dan ekologis).
  10. Berlakukan kembali sistem informasi organisasi penerapan PHT di tingkat petani (Pemantauan agro ekosistem, pengambilan keputusan dan program tindakan.


Penulis, staf pengajar Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unpad, peneliti pada Puslit Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Lembaga Penelitian Unpad.


28 Januari 2015

Cara Pemupukan Tambak Ikan Bandeng

Cara Pemupukan Tambak Ikan Bandeng - Sahabat NASA tercinta... kali ini kami akan berikan informasi kepada anda bagaimana cara pemupukan tambak ikan bandeng dengan menggunakan teknologi dari NASA atau Natural Nusantara.
Produk yang digunakan disini adalah TON atau TAMBAK ORGANIK NUSANTARA.


Adapun caranya adalah sebagai berikut:
Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air.

  1. Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
  2. Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 – 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.
  3. Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.
  4. Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 – 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.
Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 – 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.
Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal dengan kadar protein minimal 25 – 28 %.


 
© Copyright 2019 Distributor Pupuk Organik Natural Nusantara | All Right Reserved